Latest Post

Belajar arti nasionalisme dari Timnas U 19

Written By Novita Wijayanti on Senin, 24 Februari 2014 | 15.44



Ironoi memang, bangsa yang memiliki prinsip dan falsafah Pancasila menjunjung tinggi ketuhanan, nasionalisme, kemanusiaan, persatuan,keadilan dan musyawarah tercabik-cabik dalam permasalahan pelik. Korupsi, politik, hukum dan masalah lainnya. Sepertinya kita perlu mempertanyakan Nasionalisme yang ada dalam diri kita. Memang betul seperti apa kata Bung Karno, Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri.

Mari sedikit menengok sebuah pemandangan sederhana dari perjuangan yang mungkin di anggap sebelah mata namun penuh arti. Timnasional Sepakbola U 19. Sepertinya perjuangan mereka dilapangan menjelaskan seperti itulah Nasionalisme. Berjuang keras, pantang menyerah, kerjasama tim, saling mendukung, dan doa serta syukur yang tak henti. dan Tidak lupa mengibarkan sangsaka merah putih dan memberikan kebanggaan bagi bangsa dan negara.

Marilah belajar pada anak muda di lapangan ini, yang lurus hatinya, Nasionalismenya kuat di balut dengan kedekatan dengan Tuhan. Mereka berjuang untuk bangsa mereka, bukan untuk dirinya, untuk itulah mereka bekerja secara tim. Tidak berebut tenar dan ingin terkenal, bagi mereka adalah merah putih. Belajarlah Nasionalisme kepada mereka.

Gerindra bela Risma

Written By Novita Wijayanti on Rabu, 19 Februari 2014 | 21.31

Gerindra: Negara ini harus mendukung orang-orang seperti Risma 
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini merupakan figur yang dekat dengan rakyat. Oleh karena itu, pihaknya amat menyayangkan tokoh sekaliber Risma jika harus mundur.

"Negara ini harus mendukung orang-orang seperti Risma. Karier dia sebagai pemimpin masih panjang," ujar Fadli saat dihubungi wartawan, Jakarta, Selasa (18/2).

Partai Gerindra, tegas Fadli, mendukung Risma agar tetap bertahan menjadi wali kota Surabaya. Risma dianggap membela kepentingan rakyat kecil dan dia menduga wali kota perempuan satu-satunya di Surabaya itu ditekan oleh pemilik-pemilik modal.

Lebih lanjut, Fadli menambahkan, siapapun yang telah menjadi pemimpin sebuah kota, kabupaten atau provinsi adalah milik semua orang. Tidak hanya diklaim sebagai kepunyaan partai saja.

"Sama seperti Ahok. Dia dari partai kami, tapi setelah dia jadi, dia milik rakyat DKI Jakarta seutuhnya," tegasnya.

Fadli mengaku, antara Ahok dengan Risma memiliki kesamaan. Di antaranya, keduanya sama-sama memiliki sikap yang tegas dan tanpa kompromi. Seperti halnya ketegasan Risma ketika dihadapkan dengan Gubernur Jawa Timur dan Ahok yang dihadapkan dengan DPRD DKI Jakarta.

"Memimpin harus seperti itu, yang benar dikatakan benar. Yang salah dikatakan salah, partai pendukung harus mem-back up setiap kebijakannya. Risma, Ahok, Ridwan Kamil merupakan aset bangsa, itu harus kita lindungi," jelas Fadli.

"Ketiganya bisa dijadikan contoh pemimpin muda lainnya untuk membangun pemerintahan yang bebas korupsi, kuat, tegas dan efektif yang merupakan salah satu langkah dari 6 program aksi Gerindra," tandasnya.

Seperti diketahui, Risma santer dikabarkan bakal mundur sebagai wali kota Surabaya. Salah satu penyebabnya diduga lantaran ada ketidakcocokan dengan wakil walikota yang baru, Wisnu Sakti Buana yang sebelum direkomendasikan tidak ada pembicaraan dengan dirinya.

Bencanan Kelud, cepatlah berlalu

Written By Novita Wijayanti on Jumat, 14 Februari 2014 | 00.14

Sepertinya tak habis-habis bangsa ini di terpa bencana, saya Novita Wijayanti turut prihatin dan mendoakan para korban agar di berikan keselamatan dan di berikan ketabahan, Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik atas bencana yang mereka hadapi sekarang.

Saatnya kita peduli dengan sesama, saat ini adalah moment yang tepat untuk berbagi. Saat ini kita yang tidak mengalami bencana dan masih di liputi keberuntungan, sudah seharusnya turun dan membantu. Semoga saya mempunyai kesempatan untuk ikut membantu mereka.

Tiada kejadian tanpa sebuah hikmah, dan sebijak-bijak manusia adalah mengambil hikmah itu untuk senantiasa memperbaiki diri, semoga kita terus menjadi lebih baik atas peringatan alam yang silih berganti terjadi seraya berdoa kepada Allah dan memohon ampun.

Yakin Menang Insyaallah

Written By Novita Wijayanti on Senin, 03 Februari 2014 | 18.16


Pemilu legislatif sebentar lagi akan di gelar, dengan mengharap Ridho Allah, saya berharap semua berjalan lancar dan memperoleh kemenangan. Kemenangan yang kami usahakan ini bukanlah untuk siapa-siapa melainkan untuk masyarakat, kemenangan Gerindra adalah kemenangan rakyat.

Kepercayaan rakyat terhadap partai ini sepertinya terus mengalami kenaikan. Bahkan di beberapa lembaga survey menempatkan Gerinda menjadi partai yang memperoleh suara 3 besar di bawah Golkar dan PDIP. Ini menegaskan dukungan masyarakat luas terhadap partai ini. Saya menjadi lebih semangat lagi untuk memberikan perubahan melalui perahu ini.

Saya memiliki pengalaman yang cukup untuk memberikan karya yang terbaik. Meskipun halang dan rintangan selalu menghadang, namun itu memberikan pelajaran dan membuat saya lebih dewasa dalam berpolitik. Halangan dan Rintangan adalah ilmu yang di berikan Tuhan agar kita menjadi lebih kuat di masa yang akan datang.

Gerindra dukung Anas buka suara

Written By Novita Wijayanti on Sabtu, 18 Januari 2014 | 16.07



Penahanan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diharapkan bisa membuka tabir kasus Hambalang. 

“Masyarakat berharap banyak bahwa kasus Hambalang ini dapat terungkap sejelas-jelasnya. Kasus ini jangan dibiarkan berlarut-larut. Oleh karena itu saya melihat peran Anas sangat vital dalam pengungkapan kasus ini,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Fadli Zon melalui rilis yang diterima Sindonews, Senin (13/1/2014).

Fadlizon juga mengatakan, Anas harus diberi keleluasaan dalam mengungkap kasus tersebut. “Sebagai partai yang menjunjung tinggi antikorupsi, Gerindra mendukung penuh segala upaya pengungkapan kasus korupsi termasuk kasus korupsi Hambalang,” tegasnya.

Selain itu, lanjut dia, KPK juga harus memberi keleluasaan kepada Anas agar dapat mengungkap keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. KPK juga harus memberi perlindungan maksimum kepada Anas jika akhirnya ia benar-benar mengungkap kasus tersebut. 

"Gerindra juga siap untuk terus mendukung KPK dalam pemberantasan kasus-kasus korupsi lainnya,” tutup Fadlizon.


sumber: sindonews

Kepala desa apresiasi prabowo soal Rp1 miliar per desa

Written By Novita Wijayanti on Senin, 30 Desember 2013 | 23.29

 
inisiatif Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang telah mendeklarasikan dan menandatangani komitmen program alokasi anggaran minimal Rp1 miliar per desa untuk tiap tahunnya, diapresiasi oleh kepala desa (kades).

"Tanpa deklarasi anggaran desa dari Prabowo Subianto dan Partai Gerindra bulan Oktober 2013 lalu, tidak mungkin DPR mengesahkan UU Desa pada 18 Desember 2013 lalu. Karena itu kami mengapresiasi langkah-langkah beliau untuk kemajuan desa," kata Ketua Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Provinsi Lampung, Suhardi Buyung, dalam keterangan resminya, Sabtu (28/12/2013).

Hal demikian disampaikan Suhardi di hadapan 1.607 Kepala Desa seluruh Provinsi Lampung yang mengikuti Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (APDESI) Provinsi Lampung di Aula Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Sabtu, 28 Desember 2013.

"Kita telah memperjuangkan UU Desa agar disahkan selama beberapa tahun. Terakhir saya ke DPR bulan September, pimpinan Komisi 2 mengatakan UU Desa baru bisa disahkan setelah Pilpres 2014," kata Suhardi.

Namun, karena Prabowo Subianto dan Partai Gerindra mendeklarasikan anggaran Rp1 miliar per desa per tahun di bulan Oktober lalu, UU Desa akhirnya disahkan.

"Ini sebuah komitmen politik yang luar biasa, yang tentu dapat sangat membantu pembangunan infrastruktur desa di seluruh Indonesia," kata Suhardi.

Oleh sebab itu, kata Suhardi, kepala desa dan seluruh rakyat desa di seluruh Indonesia, selamanya akan mengingat keberanian dan gagasan brilian dari Prabowo dan Partai Gerindra.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Prabowo Subianto yang diundang dalam kegiatan tersebut menyampaikan terima kasih atas undangan dan pujian para kepala desa tersebut.

"Saya hadir di sini bukan untuk berkampanye. Saya di sini untuk menjelaskan situasi, menjelaskan kondisi bangsa kita yang sebenarnya," kata Prabowo Subianto dalam kesempatan yang sama.

sumber: sindonews

Tak masuk akal pencapresan Prabowo ditolak

 Tak masuk akal pencapresan Prabowo ditolak

Hasil lembaga survei Laboratorium Psikologi Universitas Indonesia (UI), pencapresan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mendapatkan penolakan dari publik.

Namun hasil survei tersebut dinilai tak masuk akal, apalagi survei tersebut mengatasnamakan lembaga perguruan tinggi yang selama ini menjadi ikon yang sangat popular.

Selain menyesatkan rakyat, opini yang dibangun itu juga dinilai termasuk negatif. Hal demikian dikatakan pengamat sosial politik dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara.

“Janganlah perguruan tinggi dipolitisasi untuk mengangkat atau menjatuhkan seseorang. Nanti bisa jadi bumerang yang sangat buruk bagi perguruan tinggi tersebut,” ujar Igor Dirgantara saat dihubungi wartawan, Senin 30 Desember 2013.

Survei tersebut dipublikasikan belum lama ini, telah menempatkan Prabowo Subianto menjadi tokoh yang paling ditolak sebagai calon presiden (capres), yaitu sebesar 20 persen. Kemudian disusul tokoh lainnya, yaitu Rhoma Irama, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, Pramono Edhi Wibowo dan Wiranto.

Dosen FISIP Universitas Jayabaya itu menjelaskan, Prabowo Subianto adalah pendiri Partai Gerindra yang memiliki jaringan pengurus sampai ke pelosok tanah air. "Beliau juga memiliki simpatisan dan pendukung di seluruh Indonesia. Bukan itu saja, dalam setiap riset dan survei, namanya sering masuk rating dua bahkan rating satu untuk tingkat popularitas maupun elektabilitas," katanya.

Sehingga, menurut dia, pelarangan nyapres berdasarkan survei itu sangat tidak masuk akal.
Lebih lanjut dia mengatakan, para akademisi seharusnya mendorong sebanyak-banyak calon presiden yang berkualitas, agar republik ini bisa bangkit menjadi macan Asia dan menjadi lebih berwibawa saat ini.

“Indonesia sudah tidak punya wibawa sama sekali, kita perlu presiden yang tegas dan berwibawa. Kalau banyak pilihannya, silakan rakyat memilih. Seharusnya itulah yang didorong oleh akademisi dan lembaga survei,” tuturnya.

Akan tetapi, menurut dia, yang terjadi saat ini adalah penggiringan opini publik oleh akademisi terkait hasil survei, karena adanya bandwagon effect atau pilihan dan dukungan publik untuk mengarahkan kepada figur.

"Ada lembaga survei tertentu juga punya dua kaki. Kaki yang satu untuk melakukan survei yang benar, dan kaki yang lainnya adalah untuk pendampingan (konsultan) pemenangan. Dari sini sudah terlihat bahwa ada lembaga-lembaga survei yang tidak mengedepankan independensinya," ungkapnya.

Menurutnya, pertarungan dalam kontestasi Pemilu 2014, lebih merupakan pertarungan antara para elite politik dibelakang layar, ketimbang hasil survei semata. Dengan kata lain, manuver, strategi, dan pilihan elite partai sering lebih menentukan pascapemilu legislatif atau jelang pemilu presiden yang akan menembus batas atas sekat-sekat hasil survei.

sumber: sindonews
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Novita Wijayanti News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger